Secara bahasa kata syi'ah berarti pengikut, golongan, seperti tedapat dalam ayat al-Qur'an:
yy_uqsù $pkÏù Èû÷,s#ã_u ÈbxÏGtFø)t #x»yd `ÏB ¾ÏmÏGyèÏ© #x»ydur ô`ÏB ¾ÍnÍirßtã (
"…..maka didapatinya di dalam
cÎ)ur `ÏB ¾ÏmÏGyèÏ© zNÏdºtö/Z} ÇÑÌÈ
"Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)." QS. As-Shaaffaat:83.
Dalam terminologi sejarah Islam, Syi'ah berarti aliran yang mempercayai bahwa Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib KW dan keturunannya adalah imam-imam atau pemimpin agama dan umat setelah Rasulullah SAW. Ciri utama yang paling membedakan kelompok ini adalah fanatisme yang berlebihan kepada Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib KW serta pemimpin mereka, dan meyakini bahwa Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib KW serta seluruh imam mereka sebagai orang yang ma'shum, yakni terbebas dari segala dosa dan kesalahan, sebagaimana sifat Rasulullah SAW. Sorga saja menurut mereka hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang mencintai Sayyidina 'Ali meskipun tidak taat kepada Rasulullah SAW, sementara neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang mereka anggap memusuhi Sayyidina 'Ali meskipun taat kepada Rasulullah SAW. Fanatisme berlebihan mereka melahirkan kebencian yang mendalam serta cacian terhadap beberapa sahabat Nabi SAW hususnya para Khulafa' ar-Rosydin, Abu Bakar, ‘Umar bin Khotthob, dan ‘Utsman bin ‘Affan RA sebab meraka dianggap telah merebut kedudukan khilafah yang seharusnya menjadi hak 'Ali bin Abi Thalib KW.
Ulama Syi'ah, al-Kulani dalam kitab al-Kafi (kitab ini menjadi rujukan utama kaum Syi'ah) berkata: "Sesungguhnya Abu Bakar dan ‘Umar telah meninggalkan dunia dalam keadaan belum bertaubat dan tidak pernah mengingat apa yang pernah dilakukan terhadap Amirul Mukminin 'Ali bin Abi Thalib. Maka bagi keduanya semoga diteruskan kutukan (laknat) dari Allah dan para Malaikat-Nya.”.[1]
Dibagian lain ia berkata: "Seluruh manusia menjadi murtad setelah wafat Nabi, kecuali tiga orang: Miqdad bin Aswad, Abu Dzarrin al-Ghifari dan Salman al-Farisi.".[2]
Rasulullah SAW sendiri pernah mengisyaratkan akan kemunculan aliran ini. Dalam sebuah Hadits dinyatakan:
سيأتي من بعدي قوم لهم نبز يقال الرافضة, فإذا أدركتهم فاقتلهم فإنهم مشركون. رواه أحمد والذهبي والدارقطني
"Akan datang setelah aku, satu golongan yang mendapat julukan Rofidloh. Jika kamu mendapati mereka, maka perangilah mereka, sebab mereka itu adalah orang-orang musyrik." HR. Ahmad, ad-Dzahabi, dan ad-Daru Qothni.
Setelah mendengar sabda Rasulullah SAW ini, Sayyidina 'Ali bertanya mengenai tanda-tanda mereka, maka Rasulullah SAW menjawab:
ينتحلون حب أهل البيت وليسوا كذلك, وعلامة ذلك أنهم يسبون أبا بكر وعمر. رواه الدار قطني
"Mereka itu seolah-olah mencintai Ahlu Bait, padahal mereka tidak demikian, sedang tanda-tandanya, mereka suka mencaci maki Abu Bakar dan 'Umar." HR. Ad-Daru Qothni.
Dalam bahasa Arab kata Rofidloh berasal dari suku kata Rofdlu yang berarti meninggalkan. Mengenai sebutan Rofidloh kepada kaum Syi'ah ini bermula dari zaman Imam Zayd bin 'Ali Zaynal ‘Abidin. Orang-orang Syi'ah yang meyakini keutamaan Sayyidina 'Ali bin Abi Thalib dibandingkan dengan Sayyidina Abu Bakar RA dan Sayyidina ‘Umar RA, bertanya tentang pandangan beliau terhadap Abu Bakar RA dan ‘Umar RA. Imam Zayd bin 'Ali kemudian menjawab: "Mudah-mudahan Allah SWT mengampuni mereka, aku tidak akan mengatakan apapun kecuali yang baik". Mendengar jawaban ini, mereka langsung meninggalkan Imam Zayn bin 'Ali dan tidak pernah datang lagi.[3]
Berawal dari perpecahan dalam persoalan politik, perpecahan ini kemudian melebar pada persoalan keyakian agama. Kaum Sy'iah ini kemudian terpecah menjadi beberapa kelompok. Kelompok yang paling utama adalah Syi'ah Imamiyah dan Syi'ah Zaydiyah. Kelompok Syi'ah Imamiyah juga disebut dengan Itsna 'Asyariyah (dua belas) karena mereka meyakini kepemimpinan umat dan agama tidak terlepas dari dua belas orang yang mereka yakini sebagai pemimpin mereka, 1. ‘Ali bin Abi Thalib KW (w. 40H./661M.) 2. Al-Hasan bin 'Ali (w. 50H./669M.) 3. Al-Huseyn bin 'Ali (w. 61H./680M.) 4. 'Ali Zaynal 'Abidin bin al-Huseyn (w. 95H./712M.) 5. Muhammad al-Baqir bin 'Ali (w. 114H./713M.) 6. Ja'far as-Shodiq bin Muhammad (w. 148H./765M.) 7. Musa al-Kadhim bin Ja'far (w. 183H./799M.) 8. 'Ali al-Ridlo bin Musa (w. 203H./818M.) 9. Muhammad al-Jawad bin 'Ali (w. 221H./835M.) 10. 'Ali al-Hadi bin Muhammad (w. 254H./868M.) 11. Hasan al-'Askari bin 'Ali (w. 260H./874M.) 12. Muhammad al-Mahdi bin Hasan (l. 265H./878M.). Meraka berkeyakinan imam yang ke dua belas menghilang dan tidak diketahui keberadaanya sampai sekarang dan kelak pada akhir zaman akan muncul.
Keyakinan kepada kedua belas imam meraka kemudian menjadi syarat dalam menilai keislaman seseorang. Mengucapkan dua kalimat syahadat saja tanpa menyebutkan kedua belas imam, bagi meraka belum mencukupi untuk menyatakan Islam seseorang.
Kitab suci al-Qur'an kaum Syi'ah tidak sama dengan umumnya kaum Muslimin. Mereka tidak mempercayai kitab suci yang beredar di tangan kaum muslim Ahlusssunnah wal jama'ah, karena tidak lengkap dan terdapat pemalsuan, sebab adanya campur tanagan dari Sayyidina ‘Utsman RA yang dengan sengaja membuang beberapa ayat al-Qur'an yang mendukung posisi mereka.
Misalnya dalam
Keyakinan kelompok ini terhadap kedua belas imam meraka sebenarnya tidak sejalan dengan kepribadian, pandangan keagamaan, dan keyakinan kedua belas imam mereka sendiri. Dalam pandangan Ahlusssunnah wal jama'ah, kedua belas imam ini tidak diragukan lagi keagungannya. Sejarah telah mencatat bahwa sebenarnya mereka jauh berseberangan dengan keyakinan kaum Syi'ah. Imam Ja'far Shodiq misalnya, beliau berkata: "Ya Allah! Aku mengakui Abu Bakar dan 'Umar sebagai pemimpinku dan aku mencintai mereka. Ya Allah! Jika ada didalam hatiku bukan yang demikian, maka biarlah aku tidak mendapat syafa'at dari Muhammad SAW kelak di hari kiamat. ". Riwayat ad-Daru Qothni.
Diriwayatkan dari Syarik bin Abdullah dari Jabir. Berkata Jabir: Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali. Apakah para ahlul bait mencaci Abu Bakar ra dan umar ra ? beliau menjawab: Aku mohon perlindungan dari Allah SWT. Beliau lalu berkata : Tidak, bahkan mereka semua mengakui kepemimpinannya dan memohonkan ampun serta rahmat kepada keduanya. Riwayat Ibnu ‘Asakir.[5]
Diceritakan dari Ishaq al-Azroq dari Bisam bin Abdullah al-Shoyrofi. Berkata Bisam: Aku bertanya kepada Abu Ja’far Muhammad al-Baqir :Apa pendapat anda tentang Abu Bakar dan Umar ? Abu Ja’far menjawab : Demi Allah aku mengakui kepemimpinannya dan aku memohonkan ampuk untuk keduanya. Aku tidak melihat satupun dari ahlul bait kecuali mengakui kepemimpinannya. Riwayat Ibnu ‘Asakir.
Diriwayatkan dari Hannan bin Sadir: Aku mendengar imam Ja’far Shodiq ditanya mengnai Abu Bakar dan Umar ra. Kemudian beliau menjawab : Sesunggunya kamu bertanya kepadaku megenai dua orang yang telah makan buah-buahan dari sorga. Riwayat Daru Qothni.[6]
Diriwayatkan dari ‘Amr bin Syamr dari Jabir. Berkata Jabir : Berkata kepadaku Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali: Hai Jabir, telah sampai kepadaku berita bahwa ada sekelompok orang di Irak yang mengaku mencintaiku dan membenci Abu Bakar dan Umar. Mereka juga mengaku bahwa aku yang telah memerintahkannya berbuat demikian. Maka sampaikan kepada mereka, sesungguhnya aku dihadapan Allah tidak bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Dan demi Dzat yang menguasai Muhammad, jika aku dijadikan sebagai pemimpin, maka aku akan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan darah mereka. Aku tidak akan memperoleh syafa’at Muhammad SAW kalau aku tidak memohonkan ampun untuk keduanya (Abu Bakar dan Umar) dan memohonkan rahmat atas keduanya. Sesungguhnya para musuh Allah telah melupakan keduanya. Riwayat Abu al-Hasan al-Daru Qothni.
Diriwayatkan dari Muhammad bin Fudlayl dari Salim bin Abi Hafshoh, salah seorang pengikut Syi’ah yang memusuhi Abu Bakar dan Umar. Berkata Salim : Aku bertanya kepada Abu Ja’far (Muhammad al-Baqir) dan kepada Ja’far Shodiq mengenai – pandangannya – tentang Abu Bakar ra dan Umar ra. Maka menjawab Abu Ja’far : “Hai Salim, aku mengakui kepemimpinan keduanya dan aku lepas tangan dari musuh keduanya, karena kedua orang tersebut adalah pemimpin yang mendapatkan petunjuk Allah SWT ”. Lalu berkata Ja’far Shodiq : “ Hai Salim, apakah seorang akan mencaci kepada kakeknya sendiri ? Abu Bakar adalah kakekku. Aku tidak akan memperoleh syafa’at Rasulullah SAW kelak di hari kiamat jika aku tidak mengakui kepemimpinannya, dan aku lepas tangan dari yang memusuhi keduanya “. [7]
Abu Bakar al-Shiddiq adalah kakek Ja’far Shodiq dari jalur ibunya, yaitu Farwah binti Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq. Jadi, jika orang-orang syi’ah mencaci dan membenci sahabat Abu Bakar al-Shiddiq ra, berarti mereka mencaci dan membenci kakek imam mereka sendiri. Sungguh tindakan yang tidak rasional dan menggelikan.
Jika dalam persoalan yang menyangkut pokok-pokok ajaran agama Islam saja mereka sudah keluar dari Ahlussunnah wal jama'ah, maka dalam 'amaliyah ibadah sehari-hari, hampir semuanya berseberangan, khomer misalnya, menurut mereka hukumnya suci, mengucapkan “amin” di akhir bacaan fatihah didalam shalat menurut mereka membatalkan shalat, shalat dluha yang semestinya sunnah, menurut mereka justru diharamkan, dan lain-lain.
Sayyid Muhammad al-Murtadlo az-Zabidi berkata: “Sebagian diantara mereka bahkan ada yang sampai kufur (murtad) dan Zindiq." Dalam Hadits dinyatakan:
عن عبد الله بن مغفل رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: الله الله في أصحابي لا تتخذوهم غرضا من بعدي, فمن أحبهم فبحبي أحبهم, ومن أبغضهم فببغضي أبغضهم. رواه الترمذي
"Dari ‘Abdullah bin Mughoffal RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Takutlah kepada Allah! Takutlah kepada Allah! Mengenai sahabat-sahabatku. Janganlah kalian menjadikan meraka sebagai sasaran caci maki sesudah aku tiada. Barangsiapa mencintai mereka, maka berarti mencintai aku, dan barangsiapa membenci mereka, maka berarti membenci aku.". HR.Turmudzi.
[1] Al-Kafi juz Vlll hal. 115.
[2] Al-Kafi juz Vlll hal. 245.
[3] As-Syahrostani menceritakan versi lain dari asal mula nama Rofidloh ini, beliau berkata: Sesungguhnya Imam Zayd bin 'Ali berkata:"Boleh saja orang yang tidak lebih utama menjadi pemimpin padahal masih ada yang lebih utama.". Mendengar perkataan ini dan mengetahui pandangan Imam Zayd bin 'Ali tentang Sayyidina Abu Bakar RA dan ‘Umar RA, kaum Syi'ah di Kufah meninggalkannya, maka mereka kemudian disebut kelompok Rofidloh (kelompok yang meninggalkan Imam Zayd bin 'Ali). Al-Milal wa an-Nihal juz l hal. 155.
[4] Dirosah ‘Ani al-Firoq Fi Tarikhi al-Muslimin al-Khowarij wa al-Syi’ah, Dr.Ahmad Muhammad Ahmad Jili, Markaz Malik Faishol, Cet. ll 1988, hal.179 – 244
[5] Tarikh dimsyiq, Ibnu 'Asakir ,Darul fikr, juz 57 hal. 203.
[6]Siyar A’lam al-Nubala’, Al-Dzahabi, Darul Fikr.Juz Vl hal. 438
[7] Ibid. juz Vl hal.438
Tidak ada komentar:
Posting Komentar